Kurikulum Belajar di Rumah Usia 0-5 Tahun dari Teh Karina Hakman

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Disini saya mau berbagi sedikit insight dan review yang saya dapat dari kajian kemarin 22/8 bersama teh Karina Hakman.

Beliau adalah seorang penulis dan ibu homeschooler 3 anak yang masih kecil-kecil ( 6th, 5th, 2th). Beliau juga penerima beasiswa S1 New Zealand tahun 2009 – 2013 di University of Auckland (B.Comm), lalu tahun 2014 – 2017 di LPDP RI S2 Master Of Business di Monash University (M.Buss).

Māsyā-Allāh, Alhamdulillah wa syukurillah, beda auranya ketika kita bertemu dengan orang-orang sholeh/ah ya.. adeeemm rasanya. Wajahnya selalu memancarkan aura ketenangan, kata-katanya juga penuh hikmah dan makna yang dalam bagi para pendengarnya.

Ternyata, setelah mendengar dari kajian kemarin 22/8, banyak PR besar bagi kita khususnya saya sebagai orangtua untuk benar-benar menyiapkan Ilmu dalam mendidik anak. Jika kata Angga Setyawan mah (Founder @anakjugamanusia),

“Beli handphone saja ada buku manualnya, Tentu jika kita punya harapan besar terhadap anak, kita sendiri harus punya upaya yang besar dalam belajar soal anak.”

Apalagi soal pondasi agama. Usia 0-5 tahun adalah usia yang sangat krusial untuk membangun pondasi hidup mereka.

Mari kita bahas yaa….

Tujuan Pendidikan

Dalam Alquran

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..”

QS. At-Tahrim : 6

Kita mendidik anak bukan hanya untuk agar mereka masuk universitas favorit, menjadi dokter, insinyur, tapi tujuan utamanya adalah agar mereka TIDAK MASUK NERAKA. Ya, menjaga mereka agar TIDAK MASUK NERAKA.


Bukan hanya anaknya saja, tapi satu keluarga. Jadi saat didik anak jangan sampai jadi fitnah. Lupa sholat, tidak tahajud, atau tidak ngaji karena sibuk didik anak. Justru jadikan anak itu membuat kita lebih dekat dengan Allah.

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

QS. Al-Furqon : 74

Agar mereka bisa menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa. Māsyā-Allāh..
Ini adalah tingkatan tertinggi daripada yang pertama, yaitu menjadi kalangan ‘ibaadurrahmaan, hamba-hamba Allah yang mengajarkan Alquran.

Dari dua ayat di atas sudah jelas ya, selain gak mau anak kita masuk neraka karena kelalaian pendidikan kita, kita juga berharap agar mereka jadi pemimpin/khalifah, yang gak hanya buat orang-orang biasa, tapi juga untuk orang-orang yang BERTAKWA.

Jadi anak kita harus lebih Takwa dari orang-orang yang bertakwa. Māsyā-Allāh.. berat yaa.. berat kalau tidak bergantung kepada Allah.

Misal, banyak orang tua yang ingin anaknya jadi dokter, insinyur dan lain-lain, tapi sebenarnya ada yang lebih penting dari itu, yakni mengedepankan kebermanfaatan mereka kelak di muka bumi.

Mau jadi apapun mereka terserah, yang terpenting adalah adanya mereka bisa menjadi manfaat buat umat dan jadi jalan dakwah bagi orang-orang disekitarnya, berbuat amar makruf nahi munkar.

Perkembangan Anak Dalam Islam

Jadi, kebanyakan pada umumnya di masyarakat kita sering dengar bahwa tugas orang tua mendidik anak hanya cukup sampai mereka menikah. Tapi ternyata tidak juga ya, bahkan sampai mereka sudah menikah pun kita harus tetap didik mereka.

Maka berbahagialah, bagi teman-teman yang sering di nasihati orangtua/mertua ya, harus bersyukur. Itu salah satu tanda cinta kasih mereka untuk kalian.

Dan dalam islam, perkembangan tentang anak-anak sudah dibahas dalam alquran. Ada masa anak-anak kita mencapai usia Baligh. Disini Teh Karin hanya bahas soal Baligh, bukan Akil-nya.

Jadi tandanya apa kalau sudah baligh? Jika perempuan ya ditandai dengan munculnya menstruasi dan lain-lain, untuk laki-laki dia sudah mengalami mimpi, dan lain-lain. Maka, saat itulah masa dimana mereka harus sudah kuat pondasi agamanya. Siap atau tidak mereka akan dibebankan setiap amalnya. Contoh tentang bab sholat.

  1. Usia 10 tahun, seharusnya si anak sudah selesai nih soal bab sholat. Dia sudah paham dan komitmen kapan ia harus sholat. Anak itu memang boleh dipukul setelah BANYAKNYA IKHTIAR yang kita lakukan. Jadi dalam islam tuh gak asal mukul gitu aja ya.. Si orang tua harus merinci dulu apa yang sudah dilakukan agar anaknya mau sholat. Apakah ia sudah memberikan keteladan? Apakah hubungannya baik dengan anak? sudah memberikan pemahaman tentang sholat? sudah menjauhkan anak dari perbuatan yang munkar atau memilihkan anak-anaknya lingkungan yang baik?
  2. Usia 7 tahun, ini adalah batas awal anak untuk bisa sholat tanpa main-main walau belum bisa komitmen. Karena dalam usia ini seharusnya mereka sudah paham mana yang baik dan buruk. Juga ini waktu yang bagus untuk melatih komitmen mereka tentang sholat. Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam memerintahkan kita untuk menyuruh anak sholat di usia 7 tahun.
  3. Usia 5-6 tahun, kita bisa ajarkan kepada mereka tentang bab Fiqih, bacaan sholat, menanamkan ketauhidan, Allah itu siapa, tentang Al-Quran, dll. Mulai ajak anak-anak untuk menghafal Alquran.
  4. 0-5 tahun adalah masa yang paling tepat untuk membentuk pondasi itu semua.

Kurikulum Usia 0-5 Tahun

Buku @anakjugamanusia

Agama

📌 Bab Tauhiid

Sejak dalam kandungan kita bisa perdengarkan anak dengan Alquran setiap hari. Anak yang selalu diperdengarkan Al-Quran akan berbeda dengan anak yang tidak suka di perdengarkan Al-Quran.

Jadi penting ya bun, di usia ini kita menjaga pendengaran atau penglihatan mereka dari hal yang tidak baik.

📌 Alquran

Anak yang sejak dalam kandungan sudah diperdengarkan Alquran akan berbeda dengan anak yang tidak suka diperdengarkan Alquran. Jika anak-anak suka “ngerecokin” saat kita sedang baca alquran, jangan larang dia, bersyukurlah, itu salah satu tanda kalau mereka mulai tertarik dengan Al-Quran.

Bisa ajak mereka baca Alquran sama-sama. Secara tidak langsung mereka merekam apa yang kita baca. Bisa dialihkan ke Al-Fatihah atau surat-surat pendek.

📌 Sirah

Kenalkan anak-anak kita dengan Sirah Nabawiyyah. Jangan soal perangnya, karena banyak kehidupan dari Rasulullah Shallallaahu’alaihi wasallam yang patut dijadikan panutan. Kaitkan segala aktivitas dengan sunnah Nabi.
Contoh, “makan pakai tangan kanan ya nak, karena Rasulullah kalau makan pakai tangan kanan.”

📌 Ibadah

Yang paling utama adalah tentang Sholat. Siapkan saat mereka usia 5-6 tahun, tapi persiapan sholat bisa dimulai sejak 0-5 tahun. Lakukan sesegera mungkin setelah adzan berkumandang, dan orang tua harus jadi contoh. Jangan ditelat-telat sholatnya #selfreminder.

📌 Akhlak

Mereka akan banyak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar. Karena anak itu fitrahnya adalah PEMBELAJAR. Contoh, mengucapkan “punteun” saat mau lewat, atau terimakasih saat mendapat sesuatu, bilang minta tolong atau maaf saat berbuat salah.

Jadi bun, poinnya adalah cara belajarnya bukan meminta anak untuk duduk, lalu kita ajarkan, tapi harus jadi contoh yang baik yaa… Bismillah! semangat!

Lifeskill

📌 Kemandirian sebagai manusia

Ajarkan makan, mandi, minum dan lain-lain sendiri. Ajak mereka membereskan mainannya sendiri. Jadi orangtua harus fasilitasi fase belajar anak saat mereka ingin belajar memakai baju sendiri, memakai kaos kaki sendiri dan lain-lain.

📌 Kebersihan

Ajarkan bersuci yang benar, berwudhu, atau toilet training.

Alhamdulillaah, jadi banyak bersyukur saat Aisyah suka ikut-ikutan berwudhu dan sholat, sekarang usianya 2 tahun 4 bulan. Sudah paham sedikitnya bagian mana yang harus dia basuh dan gerakan sholatnya seperti apa. Terimakasih nak, kamu hebat karena Allah!

📌 Skill Belajar

Bagaimana mereka berkarya/ berkreasi. Arti karya disini adalah anak² punya sesuatu yang mereka mainkan.

Membaca
Bukankah tidak boleh mengajarkan anak baca? Betul. Tapi ajarkanlah saat mereka minta. Karena dengan membaca akan membuka jendela ilmu.

Kita bisa rutinkan membacakan buku kepada mereka. Intinya jangan dipaksakan. Kalau mereka minta diajarkan maka fasilitasi.

Berhitung
Ini adalah basic dasar ya buat kehidupan mereka. Caranya bisa bermain sambil berhitung. Jadi dibuat se-menyenangkan mungkin.

Mengajarkan anak pada usia ini bukan seperti, “Ayo nak! Sini duduk! kita belajar hitung dan baca.” Bukan seperti itu ya.. kita bisa menyelipkan skill-skill tadi, menghitung dan membaca ketika mereka bermain atau saat bersama kita.

Fisik dan Kesehatan

📌Makan makanan yang sehat.

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.”

(HR. Muslim)

📌Berolahraga

0-5 tahun itu memang harus banyak gerak. Perkembangan motorik mereka sangat luar biasa. Sensorik, motorik halus, motorik kasar dll. Jangan banyak dilarang, biarkan anak explore yang mereka suka selama tidak membahayakan ya..

Metode

📌 Keteladanan

Mulai dari sekarang siapkan dan jadilah teladan yang baik bagi anak-anak, karena mereka itu seringkali adalah cerminan diri kita.

📌 Hubungan yang baik dengan anak

Jalin kedekatan yang baik dengan anak. Mau orangtua sesholih apapun jika tidak dekat dengan anak, lantas bagaimana mereka akan nge-fans ke kita?Karena betul agama itu bukan sesuatu yang bisa diwariskan, tetapi harus diajarkan. Jangan sampai dakwah diluar menghalangi dakwah kita dalam keluarga.

📌 Pembiasaan

Biasakan anak-anak untuk melakukan aktivitas yang positif. Ajarkan untuk menunggu waktu-waktu sholat, begitu juga dengan Alquran, jaga waktu tidurnya, agar bisa terbiasa bangun subuh dan tidurnya cukup. Mereka butuh rutinitas yang jelas.

📌 Pemahaman

Pembiasaan saja tidak cukup. Perlu motivasi yang kuat untuk membangun kebiasaan positif itu. Misal beri mereka motivasi tentang pahala membaca Al-Quran, pahala sedekah atau sholat. Jadi, mereka melakukan setiap ibadah itu memang benar-benar karena Allah semata. Ajarkan sesuai dengan usianya.

📌 Pelatihan

Latih anak-anak agar komitmen dengan jadwal yang ada. Ini bisa dimulai saat usia 5 tahun. Jika belum siap jangan dipaksakan.

Hal ² yang Harus Dihindari dalam Mendidik Anak

KEMAKSIATAN dan KELALAIAN orangtua. Harus menghindari perbuatan dosa. Untuk anak hindari distraksinya agar tidak menimbulkan adiksi kepadanya. Contoh pemberian gadget. Jika sudah adiksi / kecanduan maka hentikanlah.

Jadi bunda.. Jangan pernah mempercayakan segala sesuatunya kepada diri kita sendiri. Minta dibimbing Allah. Jagalah Allah maka Allah akan menjaga kita 🙂

Alhamdulillaah… Semoga bermanfaat dan kita sama-sama berjuang mencetak generasi yang Qurani dan Berakhlakul karimah.

Bunda, dirimu adalah gerbang menuju peradaban yang lebih baik. Maka, jadilah yang terbaik untuk anak-anakmu 🙂

Bismillaah. Allah bersama kita bunda.

Tinggalkan komentar